Pagi hari,
sekitar pukul enam. Dikursi pinggir jalan Rica duduk dengan kepala
memandang jalan raya. Saat itu ia sedang menunggu temannya, yaitu
Ronald. Disebelahnya terdapat Tas besar milik Rica, terlihat sudah
seperti mau piknik. Didalam tas sudah terisi Makanan kering dan juga
beberapa pakaian. Jika seseorang melihat penampilannya, pasti akan
menebak dia akan pergi piknik.
"Whooa, Sepagi
ini jalan raya sudah dilintasi mobil mobil mewah. Pasti isi dalam mobil
tersebut adalah orang orang sukses. Sepagi ini mereka sudah berangkat
kerja. Sedangkan aku, aku masih kalah dengan orang orang sukses itu. Aku
biasa bangun jam enam pagi. Orang kaya yang sudah banyak uangnya saja
bisa bangun pagi dan langsung berangkat kerja. Apa mungkin ini yang
disebut Yang kaya semakin kaya, dan yang miskin akan semakin miskin? Ah,
masa aku percaya dengan kalimat itu, aku gak akan percaya dan akan
mengubah yang miskin menjadi kaya, bahkan akan bisa melebihi yang Kaya
sekalipun."
Bagi Rica, Itu
adalah sebuah tantangan. Tantangan dimana ia harus mengubah kehidupanya
ke jalan yang lebih baik. Dia sangat menikmatinya. Ia mempunyai angan
angan yang tinggi beserta dengan temannya, yaitu Ronald. Sesekali ia
sering sekali berkhayal bahwa dirinya adalah seorang aktris.
Huh, Aktingku tidak begitu buruk. Pak Sutradara, Bisakah Bapak menilai Aktingku ini?
Akting apapun aku rasa aku bisa melakukanya.
Apa Bapak ingin melihat Aku menangis? atau mungkin tertawa?
Aku begitu
penasaran dengan suasana seperti itu. Aku ingin bersama sama dengan para
kru, melakukan adegan adegan dalam pengambilan gambar. Aku ingin
berbaur dengan para aktor atau aktris lainnya. Dan dikenal banyak orang
...
"Ca? Kenapa melamun? kamu lagi mikirin apa?" Tanya Ronald yang muncul dari sisinya.
"Bukan apa apa. Aku gak salah kan jika aku berangan angan tentang impianku?"
"Tentu. Siapa yang akan melarangmu untuk berangan angan."
Rica menjawab dengan sedikit rasa kecewa. "Sepertinya ada."
"Siapa? siapa yang sudah melarang mu untuk berangan?"
"Kehidupanku
yang sekarang ... Kenyataanya, Aku hanyalah Gadis yang gak mempunyai apa
apa. Gadis yang terus mengeluh pada kehidupan yang aku jalani ini."
"Itu hanya sebuah kehidupan yang tertunda. Kehidupan dimana kamu harus berjuang melewatinya dan menggapainya."
"Entahlah, apa aku bisa melewatinya. Bagaimana jika aku terjatuh dan gak bisa bangun kembali?"
Ronald tahu, Rica sangat tidak percaya diri saat itu. Ronald berusaha untuk bisa menguatkan hatinya.
"Aku yang akan membangunkanmu. Kita jangan menyerah sebelum angan angan kita tercapai."
Kemudian Ronald
mengeluarkan sebuah kalung dari dalam saku jaketnya. "Aku sudah membawa
apa yang kamu minta. Tada! kalung keberuntungan mu."
Rica tersenyum sembari mengambil kalung dari tangan Ronald. "Makasih, ya. Ini kalung pemberian Ibu ku. Aku akan memakainya."
"Semangatlah! Ini merupakan awal yang bagus. Kamu harus berjuang untuk bisa lolos dalam audisi itu. Apa yang kamu inginkan?"
"Lolos dalam Audisi!" Jawab Rica dengan penuh semangat
"Setelah itu kamu akan mendapatkan apa?"
"Sebuah pengalaman sebagai batu loncatan menuju Impian sebenarnya."
"Bagus, Setelah itu kamu mau apa?"
"Terjun kedunia Entertainment."
"Lalu?"
"Berakting ..."
Mereka berdua
tertawa. Disela Tawa Rica sempat meneteskan Air mata. Ia terharu
mempunyai teman yang selalu mendukung nya, Yaitu Ronald.
"Mengucapkan itu semua memang terbilang mudah, bukan? Andai apa yang kita ucapkan dapat terkabul begitu saja."
"Hei, Hei Hei. lagi lagi kamu berandai. Sudah Jam berapa ini?" Kata Ronald sambil memandang jam di tangannya.
"Oya, Ca. Jadi benar kamu akan tinggal disebuah gedung mewah selama 3 hari?"
Rica menggangguk.
"Untuk proses
audisi saja sampai selama itu. Pasti pesertanya sangat banyak. Kamu akan
tinggal disebuah gedung bersama dengan peserta lain, apa itu seperti
sebuah asrama? wah, itu pasti sangat menyenangkan."
Rica menghela
nafas dan menundukkan kepalanya. "Memang terlihat menyenangkan, tetapi
aku sangat gugup. Lagipula, disana pasti penuh dengan air mata
kesedihan. Dimana kita akan mendapat teman baru selama 3 hari itu, dan
pasti gak akan lama untuk bersama. Satu diantara kita akan tumbang."
"Kalau memang begitu, aku akan berdoa yang terbaik untukmu. Semangat! Ayo kita berangkat." Ucap Ronald.
"Tunggu dulu, Bisa kamu bawakan tas aku?" Ucap Manja Rica sambil memberikan Tas yang ia gendong.
"Iya, Iya..."
Sebuah Gedung
tempat Audisi berlangsung, Para peserta sudah memadati sekeliling
Gedung. Masih ada waktu tiga jam saat Pembukaan Audisi. Hari itu cuaca
mendung. Seorang wanita berjaket tebal sudah mangkir lengkap dengan tas
barang bawaan nya. Ia berteduh dibawah Pohon yang lebat daunya, Takut
takut jika hujan turun akan mengurangi terkena siraman air. Dia Adalah
Shiva. Disaat udara dingin dan mungkin akan turun hujan, Shiva lebih
memilih berlindung dibawah pohon dibandingkan harus menyampur dengan
peserta lain yang berlindung dibawah Atap.
Tak apa ... Kuatkan Dirimu, Va. Aku tidak perlu teman bicara.
Dan aku tidak butuh sorakan penyemangat yang diucapkan oleh rekan ku sendiri.
Aku lebih suka seperti ini.
Itulah kalimat yang terus diucapkan Shiva saat melihat peserta lain berkumpul bersama disekelilingnya.
Tidak lama
kemudian hujan turun menyirami kota Jakarta pagi itu. Walau sudah
memakai jaket, Udara yang ditimbulkan masih terbilang sungguh dingin,
Hingga menusuk Kulit. Shiva sedikit menggigil dan ia mengambil payung
dari dalam tasnya untuk melindungi barang barang nya.
Hujan sudah turun, Apakah ini akan menjadi awal yang baik untukku?
Aku sudah muak dengan kehidupan yang aku alami ini.
Ya, aku mengikuti Audisi ini agar aku terlihat sebagai layaknya manusia lainnya.
Yang selalu di anggap dan di hormati ...
Walau ini bukan merupakan impianku, tapi aku bisa mulai dari sini.
Dan memanfaatkan kesempatan ini.
Sebuah mobil
yang dikendari oleh sopir milik Ve tiba dan terparkir tepat didepan
Shiva meneduh. Sopir itu telah diberitahukan oleh seorang satpam gedung
agar tidak masuk kedalam halaman gedung dikarenan tidak adanya lahan
parkir yang kosong, sudah terlalu padat. Didalam mobil sudah ada tiga
orang peserta, Ve, Melody serta Dhike. Tidak baik rasanya jika berangkat
sendiri dengan mobil yang masih ada ruang untuk duduk, pikir Ve. Maka
dari itu Ve mengajak teman nya pula.
Ve menggigit
gigit bibirnya, ia merasa resah karena harus menunggu diluar gedung,
ditambah hujan yang turun saat itu. Ia ingin sekali masuk kedalam dan
melihat lihat suasana disekitar gedung.
"Hadu, kenapa Hujannya gak berenti berenti. Apa kalian mau masuk kedalam? kita bisa pake payung." Tanya Ve.
"Kita tunggu disini aja, deh. Lagipula masih ada waktu banyak, kan?" Jawab Melody.
Di ujung kursi
Dhike membuka setengah kaca mobil agar pandangan nya jelas, ia sedang
melihat lihat suasana sekitar gedung. Kemudian pandangan nya terhenti
pada Shiva.
"Eh, eh apa orang itu juga termasuk peserta Audisi?"
"Kayaknya sih iya, Key. Liat aja ditangan kanan nya ia menggenggam kartu peserta Audisi."
"Kasian ya, Mel. Diluar dingin banget, kenapa dia meneduh disitu."
Tidak sengaja pandangan Shiva pun berhenti pada Dhike. Mereka saling memandang.
Kenapa wanita yang didalam mobil itu memandangiku?
Aku mengingat pandangan itu, pandangan itu sama seperti aku memandangi foto orang tua ku.
Dia belum mengenalku tetapi dia sudah mengasihaniku.
Hati manusia memang sungguh lemah.
Dari sisi
sebelah kanan sebuah mobil melaju dengan sangat cepat, Air yang
tergenang dijalan menjadi buyar tersapu oleh ban mobil yang berputar
kencang. Cipratan air tidak bisa dihindarkan oleh Shiva, sebagian baju
hingga wajah nya terkena Noda cipratan nya. Shiva sungguh terkejut dan
kesal dalam hati.
Benar, siramlah aku. Wanita rendahan yang tidak mempunyai apa apa memang pantas menerima nya. Tetapi, Tunggu saja ...
Tunggu sampai aku bisa seperti kalian.
Dhike semakin tidak tega melihat Shiva tersirami oleh air genangan. ia menoleh pada Ve.
"Ve, boleh aku pinjam payung mu?"
"Boleh, memangnya kamu mau kemana?" Tanya Ve sambil memberikan payung miliknya.
"Sebentar saja."
Dhike membuka pintu mobil dan berjalan menghampiri Shiva.
"Gak salah
lagi, Ikey pasti nyamperin Gadis diseberang sana. Hatinya begitu lemah,
aku takut karena lemahnya nanti akan mudah dipermainkan orang. Benar
kan, Mel?"
"Tapi memang
gak ada salahnya jika mempunyai hati yang lembut seperti Ikey. Aku
memikirkan bagaimana jika aku berada diposisi gadis itu? aku pasti
merasa seolah olah dunia telah membenciku. Yang dibutuhkan gadis itu
saat ini memang seseorang seperti Ikey."
Dhike mengambil Tisu dari dalam sakunya dan menyodorkannya pada Shiva. "Kamu gak apa apa? Kenapa kamu diem disini?"
"Aku gak apa apa dan simpan saja Tisu mu itu, Jangan perdulikan aku. Aku pantas menerimanya." Cuek Shiva.
Dhike sedikit
heran mendengar balasan shiva. Padahal Niat Dhike sungguh baik. Melihat
situasi Shiva mengingatkan Dhike pada Ayu. Hatinya sungguh tersentuh.
"Aku gak
mengerti dengan hati manusia. Aku ... Aku juga mempunyai teman dan sudah
aku anggap seperti keluarga ku sendiri. Ia sungguh menderita. Ia selalu
mengeluh tentang kehidupan yang ia alami. Ia ingin mempunyai banyak
teman dan berusaha bersikap baik pada semua nya. Ia juga ingin diakui
dan diperlakukan sama seperti yang lainnya. Ayahnya menghilang begitu
saja entah kemana tanpa memberi salam perpisahan. Ia selalu di ejek
bahwa dia adalah anak buangan dan Ayahnya menikah lagi. Bagaimana ...
Bagaimana jika-"
"Jika aku
berada diposisi dia? itu yang kamu maksud? Didunia ini, gak ada yang
bisa memahami hati seseorang sepenuhnya. Uanglah yang paling berkuasa,
uanglah yang bisa mengubah hati manusia menjadi jahat. Tanpa ada uang,
rasa kesepian lah yang sering ditemui." Potong Shiva.
"Bukan itu yang
aku maksud. Disaat seseorang mulai merasa kesepian, ia mencoba dan
berjuang untuk menghilangkan rasa kesepiannya itu. Itulah yang dilakukan
temanku saat ini."
"Dengan
merendahkan diri sendiri? atau mungkin dengan berjusud memohon agar
semua mengasihaninya? itukah yang dilakukan teman mu? Aku rasa teman mu
itu cukup rendahan dan sangat lemah."
Mendengar
kalimat terakhir yang diucapkan Shiva membuat Dhike sungguh marah.
Ucapanya memang terdengar sungguh kasar. Apalagi ia telah merendahkan
teman yang sangat ia sayangi. Tisu yang tidak jadi diberikan pada Shiva
ia genggam kuat kuat. Dhike memutuskan untuk kembali berjalan menuju
mobil. Tetapi, saat Dhike sudah berada tepat didepan pintu mobil, ia
menoleh kebelakang dan kembali memandang Shiva dengan tajam. Dhike
kembali berjalan menemui Shiva.
Ve serta Melody yang melihat tingkah Dhike mulai keheranan.
"Kenapa dia? Muka nya kayak marah gitu, Mel."
"Aku juga gak tau."
Setelah Dhike sampai dihadapan Shiva, Dhike menatap kuat Shiva. Shiva pun balik menatap Dhike dengan tajam.
"Jangan sia sia
kan orang yang benar benar tulus membantu mu. Aku hanya heran, disaat
rasa kesepian melanda, Justru temanku ingin sekali membuangnya. Yang aku
lihat kali ini sungguh berbeda. Aku gak bisa merasakannya karena aku
memang belum pernah mengalaminya separah yang kalian rasakan saat ini.
Karena ... Karena aku sungguh beruntung mempunyai teman yang baik dan
saling menyayangi." Ujar Dhike.
Tidak sengaja
mata Dhike tertuju pada kartu peserta yang Shiva kenakan dibajunya.
Dhike melirik Nama serta nomor Audisi nya. Setelah mengetahui nama orang
yang ada dihadapannya, Dhike bergegas untuk meninggalkannya seraya
berkata. "Selamat berjuang dalam Audisi ... Shiva ..."
Shiva sedikit
keheranan Dhike menyebut namanya, kemudian Shiva melirik kartu peserta
miliknya. Ternyata benar, Dhike telah melihat kartu namanya yang
tertempel dibajunya.
***
Agar dapat
memusatkan seluruh energi pada penyelidikan, Sendy terpaksa melakukan
semua yang harus dikerjakannya, Bahkan hal mustahil sekalipun akan ia
lakukan. Ini merupakan tantangan tersendiri baginya. Untuk misi yang
dijalankan kali ini, Sendy tidak terlihat memakai pakaian yang tertutup.
Ia bahkan bertingkah laku seperti peserta lainnya. Dilehernya pun Sendy
tidak lupa melilitkan sebuah kartu peserta Audisi yang bernomorkan
seribu dua ratus delapan puluh empat. Sendy yang sedang menunggu
kehadiran targetnya mulai mengeluh. Ia melirik jam di tangan nya.
Sudah hampir
pukul tujuh. Kenapa ia belum datang juga? aku sudah menunggu ditempat
yang aku pastikan dia akan lewat sini. Dia melakukan ini diam diam.
Kemudian pandangan Sendy terhenti pada sesosok gadis dihadapanya. Benar, yang dilihatnya saat itu memang benar targetnya.
Aku menunggumu, Gadis kecil ...
Sikap Sendy
berubah drastis menjadi wanita yang polos dan ceria. Ya, yang ia lakukan
hanyalah sebuah sandiwara. Agar dapat menangkap sebuah mangsa, kita
harus mengetahui apa yang dipirkan target kita sebelum melakukan
tindakan. Itulah prinsip yang dipegang Sendy.
Targetnya mulai
mendekat dan melangkah tepat dihadapan Sendy. Kemudian Sendy
menghampirinya dengan senyum. Dia adalah Ayu, Gadis kesepian yang
tinggal diapartemen dengan Ibu nya.
"Maaf, apa kamu juga termasuk peserta Audisi?" Tanya nya.
Ayu hanya menggangguk.
"Yey!
Senangnya. Aku datang kesini seorang diri, Jadi aku sungguh kesepian.
Kalau gak keberatan maukah kamu menjadi teman ngobrol ku?"
Sesaat Ayu mendelik, Ia merasa bahwa hari ini adalah hari keberuntungan baginya.
Ayu tersenyum dan kembali menggangguk.
"Hu, Daritadi kamu hanya menggunakan bahasa isyarat. Aku ingin mendengar suara mu. Oya, Siapa namamu?"
"Na.. Nabilah Ratya Ayu. Panggil saja aku Ayu."
"Bagus! Kalau
namaku Sendy Ariani." Ucap Sendy sambil mengulurkan tangannya. Dan
mereka saling berjabat tangan. Setelah itu mereka berjalan bersama
menuju gedung tempat Audisi berlangsung.
Sendy menengok pada Ayu. "Aku ... Boleh aku tau kenapa kamu mengikuti Audisi ini?"
"Aku... Aku hanya ingin mengubah kehidupanku ke arah yang lebih baik. Aku gak harus menderita lagi."
"Bagaimana kamu tau itu akan mengubah kehidupan mu yang sekarang? Apa kamu bisa membaca masa depan atau semacamnya?"
"Apa yang kamu
bilang memang benar, gak sepenuhnya itu akan berhasil. Tetapi, kalimat
teman ku selalu terbayang bayang dipikiran ku."
"Apa itu?" Tanya Sendy Penasaran.
"Ia mengatakan
padaku, Mengerjakan sesuatu gak harus mengetahui akibat yang akan
terjadi nanti. Itu akan selalu menghambatmu untuk melakukan tindakan
kedepannya. Hidup seperti sebuah teka teki, Jika jawaban itu benar, maka
tujuanmu telah terpenuhi. Tapi jika kamu kalah, Kamu masih bisa
menggunakan jalan yang lain, jangan pernah berhenti." Ujar Ayu.
"Bagaimana jika
kamu kehabisan kesempatan untuk bertindak? Bukankah teka teki selalu
ada batasnya? Jika kamu gak bisa menjawab teka teki tersebut, maka kamu
akan mengosongkannya, benar begitu?" Balas Sendy.
"Kamu pasti
orang yang sangat pintar. Kakak ku pernah bilang, Jika ada yang
mengajukan pertanyaan seperti yang kamu bilang saat ini, Maka jawaban
perumpamaan yang paling tepat adalah aku."
Sendy sedikit binggung. "Kamu? Bisa kamu jelaskan?"
"Kehidupan Yang aku alami saat ini. Kehidupan yang kosong tanpa sebuah tujuan. Itu seperti teka teki yang gak bisa kita jawab."
"Keputusasaan?
Kesepian? Kamu mengganggap dunia ini telah memperlakukan mu dengan
kejam, seperti itukah kehidupan yang kamu jalani?"
Ayu menggangguk
dengan perasaan sedikit kecewa. Melihat wajah Ayu yang begitu tidak
bersemangat, Sendy berusaha mengambil kesempatan untuk nya untuk lebih
dekat. Ia menggandeng tangan Ayu sambil tersenyum.
"Kalau begitu
kamu bisa manfaatkan aku. Manfaatkan lah aku sebagai teman terdekat mu.
Aku janji akan selalu berada disisimu. Dan aku rasa kamu juga orang yang
baik. Wahh... aku jadi terus mengingat kalimat itu, Hidup seperti
sebuah teka teki. Aku jadi penasaran dengan temanmu yang sudah
mengucapkan itu semua. Kamu pasti bangga mempunyai dia."
Ayu tersenyum.
Namun tidak lama senyum itu berlangsung. Ayu mendelik setelah melihat
apa yang dilihatnya dihadapannya. Ayu terperangah setelah melihat Dhike,
Ve, Melody serta Stella dihadapannya. Bagaimanapun Ayu melakukan
semuanya secara diam diam. Begitupun dengan Dhike, ia pun begitu
terkejut memandang Ayu yang tiba tiba saja muncul dihadapannya.
Apa yang dia lakukan disini? apa mungkin ... Tukas Dhike dalam hati.
Seketika wajah Dhike berubah kecewa. Orang yang paling dipercayanya kenapa bisa melakukan hal yang tidak diketahuinya.
Ve menyikut nyikut lengan Melody disebelahnya. Ve masih terperanjat melihat Ayu didepannya.
"Mel, itu kan Ayu. Apa dia diam diam ikut Audisi juga? Lihat saja dibajunya sudah ada kartu peserta." Bisiknya.
"Aku juga kurang tau, Ve."
Sungguh menarik, aku akan memanfaatkan kesempatan momen ini. Senyum Sinis Sendy.
Sebenarnya Sendy sudah mengetahui bahwa Ayu mengikuti Audisi tanpa sepengetahuan orang lain.
Dhike berjalan
lemah menghampiri Ayu. Ia melirik kartu peserta yang dikenakan Ayu.
melihat itu, Ayu tertunduk terdiam. Ayu tidak berani mengucapkan sepatah
katapun.
"Apakah ini
yang dinamakan kepercayaan? apakah ini yang dinamakan ketulusan? Aku
merasa semua itu telah lenyap. Aku telah memberikan semua kepercayaan
kepadamu, tapi yang kudapat hanyalah kekecewaan."
Mendengar
ucapan Dhike membuat telinga Ayu panas. Ia ingin sekali mengakui nya.
Tapi menurutnya itu semua percuma saja. Dhike telah menerima kekecewaan
darinya. Disebelahnya Sendy melirik Ayu. Didalam pikiran Sendy ia sudah
mempunyai rencana yang akan ia gunakan saat itu.
Sendy mendekat
pada Dhike seraya berkata. "Aku yang mengajak dia untuk ikut dalam
audisi ini. Aku yang memaksanya. Jadi, ini semua bukan sepenuhnya salah
dia."
Ayu terperangah
mendengar nya. Bagaimanapun itu semua tidak benar. Sedangkan Dhike
masih tidak mempercayai ucapan Sendy, Ia yang lebih tahu semua tentang
kehidupan yang Ayu Jalani.
Dhike menatap
Sendy kesal. "Kamu siapa? Teman barunya? Ah, aku rasa kamu hanyalah
sebuah patung yang ditugaskan menyembunyikan sebuah fakta dan
menyebarluaskan sebuah kebohongan. Bukan Begitu?"
Sendy tertawa
sinis mendengarnya. "Apakah berteman lama itu selalu baik? Aku memang
belum lama berteman dengan Ayu. Ah, Bukankah namamu Dhike? Teman yang
selalu menjaganya, melindunginya serta ... Mengasihaninya. Aku rasa
semua kalimat itu gak cocok ada pada dirimu. Yang dilakukan Ayu saat ini
memang benar, Mengikuti Audisi merupakan tindakan yang bagus untuknya
menghilangkan rasa kesepiannya. Sedangkan yang kamu lakukan saat ini
hanya bisa menjaganya tanpa melakukan sebuah jalan keluar yang tepat.
Apa dengan begitu rasa kesepiannya akan hilang?"
Tubuh Dhike bergetar kesal, Ia mengepal kedua tangannya dan lebih mendekat menatap Sendy.
"Jaga ucapanmu.
Aku bukanlah orang yang ceroboh melakukan suatu tindakan. Aku selalu
memikirkan apa yang akan terjadi kedepannya. Apa yang dimiliki Ayu saat
ini sunggulah gak tepat untuknya melakukan tindakan seperti yang kamu
lakukan saat ini. Mengajak Audisi? Itu hanya akan memperburuk keadaan.
Kehidupan diluar sana sungguh kejam."
Lagi lagi Ve
menyikut nyikut lengan Melody disebelahnya. Ve begitu khawatir dengan
suasana yang ada dihadapanya. "Mel, Gimana ini? kok jadi begini
suasananya. Kamu coba hentikan mereka."
"Tapi gimana caranya?" Keluh Melody.
Ayu yang masih terperanjat kemudian memandang Dhike dengan perasaan bersalah.
Sebenarnya ada
apa ini? Mengapa semua mempeributkan aku? Kak, Aku binggung harus
berbicara apa. Tapi mohon jangan berpikiran buruk tentangku. Aku sungguh
binggung, siapa yang harus aku percayakan? Ucapan Kak Sendy yang
barusan memang benar, aku melakukan ini hanya untuk membuang rasa
kesepianku ini. Aku harus mencobanya walaupun aku tak tahu apa yang akan
terjadi kedepannya.
"Masih ada yang ingin kamu katakan? Kalo gak ada aku permisi dulu." Ucap Sendy pada Dhike.
"Masuklah!
Masuk dan lihatlah betapa kejamnya dunia luar. Jika kamu terjatuh jangan
coba coba sebut atau panggil namaku lagi. Tindakan kamu kali ini
membuat rasa kecewa ku tumbuh. Bersenang senanglah dengan teman baru mu
itu." Sindir Dhike. Bagaimanapun kalimat yang diucapan Dhike barusan
memang cocok diperuntukkan oleh Ayu.
Sudah berakhir?
Apa aku melakukan kesalahan yang begitu besar? Jangan! Aku gak mau
berpisah dengan Kakak. Ucap kata isi hati Ayu.
Perlahan Ayu
mulai melangkahkan kakinya menuju Dhike. Mungkin ia akan meminta maaf.
Tetapi, langkahnya dihentikan oleh Sendy. Sendy menarik tangan Ayu
dengan paksa.
"Jangan Lemah,
apa yang kamu lakukan saat ini sudah tepat. Kamu masih mempunyai aku,
Aku yang akan selalu ada disisimu menggantikannya. Jangan pernah takut."
Bisik Sendy pada Ayu.
Sendy menarik
lengan Ayu dan membawanya pergi. Disebelah Sendy, Ayu membalikkan
kepalanya dan menatap Dhike. Kesedihan tumbuh diwajah Ayu. Perlahan
lahan Ayu menggelengkan kepalanya pada Dhike. Maksudnya agar Dhike terus
mempercayai Ayu dan semua yang terjadi barusan adalah tidak benar.
Namun sayang, Dhike tidak bisa menyaring bahasa tubuh yang Ayu tunjukan.
"Pergilah!
Mempunyai teman satu itu lebih baik dibandingkan mempunyai banyak teman
tetapi gak ada yang bisa tulus. Pergi dan carilah teman sebanyak yang
kamu mau. Aku sudah gak peduli semua yang kamu lakukan." Teriak Dhike
pada Ayu. Ia begitu kesal.
BERSAMBUNG ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar